DPT SEBAGAI SALAH SATU JENIS IMUNISASI
Makalah
Di Susun Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Kesehatan Anak
Dosen Pembimbing : dr.
Siti Maesaroh, M.Kes
Kode Mata
Kuliah : 211
DISUSUN OLEH :
|
1.
|
Anida Tri Purbasari
|
2012.003
|
|
2.
|
Dewi oktaviani
|
2012.008
|
|
3.
|
Ilafy Rumaisya Nursyi
|
2012.013
|
|
4.
|
Mila Septianingrum
|
2012.018
|
|
5.
|
Nukita Fibriyana
|
2012.023
|
|
6.
|
Rora Estuningtyas
|
2012.028
|
|
7.
|
Stefanie arta indriawati
|
2012.033
|
|
8.
|
Vita Putri Utami
|
2012.038
|
Kelas IA
AKADEMI
KEBIDANAN MAMBA’UL ‘ULUM SURAKARTA
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini berjudul “ DPT
sebagai salah satu jenis imunisasi” dibuat dalam rangka memenuhi salah satu
tugas penilaian mata kuliah Ilmu Kesehatan Anak semester III di Akademi
Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta tahun 2013.
Dalam proses penyusunan
makalah ini, penulis mendapatkan referensi dari berbagai sumber buku. Penulis
menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini,
oleh karena itu, kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan
penyusunan selanjutnya.
semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi mahasiswa kebidanan khususnya,dan masyarakat atau instansi
kesehatan pada umumnya.
Surakarta,
10 Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman judul ....................................................................................................... i
Kata pengantar...................................................................................................... ii
Daftar isi.............................................................................................................. iii
BAB
I.PENDAHULUAN
A. Latar belakang.................................................................................... 1
B. Tujuan................................................................................................ 2
C. Rumusan Masalah.............................................................................. 3
BAB II.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
......................................................................................... 4
B.
Manfaat
imunisasi DPT...................................................................... 4
C.
Penyakit
yang berhubungan dengan imunisasi DPT.......................... 5
D.
Jadwal
pemberian imunisasi DPT........................................................
E.
Efek
samping imunisasi DPT...............................................................
BAB III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan...................................................................................... 16
B.
Saran................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... iv
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kesehatan
anak dipeengaruhi oleh system imun didalam dirinya, system imun yang memadai
memungkinkan anak memiliki kekebalan maksimal sehingga mampu melawan virus yang
mampu merusak kekebalan tubuhnya. Imunisasi merupakan salah satu peningkatan
kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia
terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit. Imunisasi memang
penting untuk membangun pertahanan tubuh bayi.Tetapi, orangtua masa kini
seharusnya lebih kritis terhadap efek samping imunisasi yang mungkin menimpa anak.
Pertahanan
tubuh bayi dan balita belum sempurna.Itulah sebabnya pemberian imunisasi, baik
wajib maupun lanjutan, dianggap penting bagi mereka untuk membangun pertahanan
tubuh.Dengan imunisasi, diharapkan anak terhindar dari berbagai penyakit yang
membahayakan jiwanya.
Di
lain pihak, pemberian imunisasi kadang menimbukan efek samping. Demam tinggi
pasca-imunisasi DPT, misalnya, kerap membuat orangtua was-was. Padahal, efek
samping ini sebenarnya pertanda baik, karena membuktikan vaksin yang dimasukkan
ke dalam tubuh tengah bekerja.Namun, kita pun tidak boleh menutup mata terhadap
fakta adakalanya efek imunisasi ini bisa sangat berat, bahkan berujung
kematian.Realita ini, menurut Departemen Kesehatan RI disebut "Kejadian
Ikutan Pasca Imunisasi"(KIPI).Menurut Komite Nasional Pengkajian dan
Penanggulangan (KN PP) KIPI, KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang
terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.
Menurut
Komite KIPI, sebenarnya tidak ada satu pun jenis vaksin imunisasi yang aman
tanpa efek samping. Oleh karena itu, setelah seorang bayi diimunisasi, ia harus
diobservasi terlebih dahulu setidaknya 15 menit, sampai dipastikan tidak
terjadi adanya KIPI (reaksi cepat).
Selain
itu, menurut Prof. DR. Dr. Sri Rejeki Hadinegoro SpA.(K), untuk menghindari
adanya kerancuan antara penyakit akibat imunisasi dengan yang bukan, maka
gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu.
"Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat.Dilihat dari
gejalanya pun, dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan
saraf pusat, serta reaksi lainnya," terang Ketua Satgas Imunisasi Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.
Dalam
bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen.Secara
khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya.
Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang
dibuat tubuh disebut antibodi.Zat anti terhadap racun kuman disebut
antioksidan.
Berhasil
tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat
anti yang dibentuk. Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen
yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman ganas.Virulen yang baru untuk
pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila
terjangkit kuman ganas.
Jadi
pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap
antigen, tidaklah terlalu kuat.Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk
mengatasinya.Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak
sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi
antigen-anibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan
antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap
penyakit tersebut.
Dari
uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar
dari ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan.
Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi
perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan
kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari
ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam
tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap
kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus
mendapat suntikan/imunisasi ulangan.
B.
Tujuan penulisan
1. mengetahui
pengertian imunisasi DPT.
2. Mengetahui
manfaat imunisasi DPT.
3. mengetahui
penyakit yang mungkin timbul apabila tidak di beri imunisasi DPT
4. Mengetahuin
jadwal pemberian imunisasi DPT.
5. Mengetahui
efek samping pemberian imunisasi DPT.
C.
Rumusan Masalah
1. Mengetahui pengertian imunisasi DPT.
2. Mengetahui manfaat imunisasi DPT.
3. Mengetahui penyakit yang mungkin timbul
apabila tidak di beri imunisasi DPT
4. Mengetahuin jadwal pemberian imunisasi DPT.
5. Mengetahui efek samping pemberian imunisasi
DPT
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Imunisasi
adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan
sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah
atau berbahaya bagi seseorang.Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti
kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan
kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari
penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya (Umar,2006).
Imunisasi
adalah usaha memberikan kekebalan kepada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin
ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti bodi untuk mencegah terhadap
penyakit tertentu (Hidayat,2008).
Imunisasi
biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh
mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan
penyakit berbahaya.Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi
harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang
sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak (www.litbang.depkes.go.id).
Dari
berbagai pengertian imunisasi tersebut,
maka dapat disimpulkan bahwa imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan
kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau bibit kuman
yang telah dilemahkan atau dimatikan kedalam tubuh. dengan memasukan kuman atau
bibit penyakit tersebut, tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada saatnya
digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit penyakit penyerang tubuh.
Vaksin
adalah suatu bahan yang terbuat dari kuman, komponen kuman, atau racun kuman
yang telah dilemahkan atau dimatikan. Vaksin difteria terbuat dari toksin kuman
difteri yang telah dilemahkan. Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang
telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. Vaksin Pertusis terbuat dari kuman
Bordetella Pertusis yang telah dimatikan. Selanjutnya ketiga vaksin ini dikemas
bersama yang dikenal dengan vaksin DPT.
Imunisasi
DPT adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit Difteri,
Pertusis, Tetanus dengan cara memasukkan kuman difteri, pertusis, tetanus yang
telah dilemahkan dan dimatikan kedalam tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan
zat anti yang pada saatnya nanti digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit
ketiga penyakit tersebut (Markum, 2005).
Imunisasi
DPT (Diphteri, Pertusis dan Tetanus) merupakan imunisasi yang digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit difteri. Imunisasi DPT ini merupakan vaksin yang
mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya akan
tetapi masih dapat merangsang pembentukkan zat anti (toksoid). Frekuensi
pemberian imunisasi DPT adalah tiga kali, dengan maksud pemberian pertama zat
anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan
mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti, kedua dan ketiga terbentuk zat
anti yang cukup (Alimul, 2008).
B.
Deskripsi Vaksin
Deskripsi
Jerap DPT adalah vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang
dimurnikan, serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi yang teradsorbsi ke
dalam 3 mg / ml Aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai
pengawet. Potensi vaksin per dosis tunggal sedikitnya 4 IU pertussis, 30 IU
difteri dan 60 IU tetanus.
Indikasi
Untuk Imunisasi secara simultan terhadap difteri, tetanus dan batuk rejan.
C.
Komposisi
Komposisi tiap
ml mengandung Toksoid difteri yang
dimurnikan 40 Lf Toksoid tetanus yang dimurnikan 15 Lf B, pertussis yang
diinaktivasi 24 OU Aluminium fosfat 3 mg Thimerosal 0,1 mg.
D.
Dosis dan Cara Pemberian
Vaksin
harus dikocok dulu untuk menghomogenkan suspensi.Vaksin harus disuntikkan
secara intramuskuler atau secara subkutan yang dalam.Bagian anterolateral paha atas
merupakan bagian yang direkomendasikan untuk tempat penyuntikkan.(Penyuntikan
di bagian pantat pada anak-anak tidak direkomendasikan karena dapat mencederai
syaraf pinggul).Tidak boleh disuntikkan pada kulit karena dapat menimbulkan
reaksi lokal. Satu dosis adalah 0,5 ml. Pada setiap penyuntikan harus digunakan
jarum suntik dan syringe yang steril.
Di
negara-negara dimana pertusis merupakan ancaman bagi bayi muda, imunisasi DPT
harus dimulai sesegera mungkin dengan dosis pertama diberikan pada usia 6 minggu
dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval masing-masing 4 minggu. Vaksin
DPT dapat diberikan secara aman dan efektif pada waktu yang bersamaan dengan
vaksinasi BCG, Campak, Polio (OPV dan IPV), Hepatitis B, Hib.dan vaksin Yellow
Fever.
E.
Kontraindikasi
Terdapat
beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan suntikan pertama DPT.
Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala
serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi dari komponen
pertussis.Imunisasi DPT kedua tidak boleh diberikan kepada anak yang mengalami
gejala-gejala parah pada dosis pertama DPT. Komponen pertussis harus
dihindarkan, dan hanya dengan diberi DT untuk meneruskan imunisasi ini.Untuk
individu penderita virus human immunodefficiency (HIV) baik dengan gejala
maupun tanpa gejala harus diberi imunisasi DPT sesuai dengan standar jadual
tertentu.
F.
Manfaat Imunisasi DPT Dasar
Dengan
imunisasi ini tubuh akan membuat zat anti dalam jumlah banyak, sehingga anak
tersebut kebal terhadap penyakit. Jadi tujuan imunisasi DPT adalah membuat anak
kebal terhadap penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus. Selain itu manfaat
pemberian imunisasi DPT adalah :
1.
Untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu
yang bersamaan terhadap penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.
2.
Apabila terjadi penyakit tersebut, akan jauh
lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alami.
3.
Secara alamiah sampai batas tertentu tubuh juga
memiliki cara membuat kekebalan tubuh sendiri dengan masuknya kuman-kuman
kedalam tubuh. Namun bila jumlah yang masuk cukup banyak dan ganas, bayi akan
sakit. Dengan semakin berkembangnya teknologi dunia kedokteran, sakit berat
masih bisa ditanggulangi dengan obat-obatan. Namun bagaimanapun juga pencegahan
adalah jauh lebih baik dari pada pengobatan (Markum, 2005).
G.
Jenis-Jenis Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi Dpt
1.
Difteri
Penyakit
difteria disebabkan oleh sejenis bakteria yang disebut Corynebacterium
diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Seorang anak akan
terjangkit difteria bila ia berhubungan langsung dengan anak lain sebagai
penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (karier) : yaitu dengan
terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman. Bila anak nyata menderita
difteri dapat dengan mudah dipisahkan. Tetapi seorang karier akan tetap
berkeliaran dan bermain dengan temannya karena memang ia sendiri tidak sakit.
Jadi, ditinjau dari segi penularannya, anak
karier ini merupakan sumber penularan penyakit yang sulit diberantas. Dalam hal
inilah perlunya dilakukan imunisasi. Dengan imunisasi anak akan terhindar,
sedangkan temannya yang belum pernah mendapat imunisasi akan tertular penyakit
difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang menjadi karier.
Anak yang
terjangkit difteri akan menderita demam tinggi. Selain pada tonsil (amandel)
atau tenggorok terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput ini meluas ke
bagian tenggorok sebelah dalam dan menutupi jalan nafas, sehingga anak
seolah-olah tercekik dan sukar bernafas. Kegawatan lain pada difteri adalah
adanya racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Racun ini dapat menyerang otot
jantung, ginjal dan beberapa serabut saraf. Kematian akibat difteri sangat
tinggi biasanya disebabkan anak tercekik oleh selaput putih pada tenggorok atau
karena jantung akibat racun difteria yang merusak otot jantung (Markum, 2005).
2.
Pertusis
Pertusis atau
batuk rejan, atau yang lebih dikenal dengan batuk seratus hari, disebabkan oleh
kuman Bordetella Pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita anak balita,
bahkan dapat berakibat kematian pada anak usia kurang dari 1 tahun. Gejalanya
sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar
berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang
sampai muntah. Karena batuk yang sangat keras, mungkin akan disertai dengan
keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada
waktu menarik nafas, kemudian akan tampak letih dengan wajah yang lesu. Batuk
semacam ini terutama terjadi pada malam hari.
Bila penyakit
ini diderita oleh seorang bayi, terutama yang baru berumur beberapa bulan, akan
merupakan keadaan yang sangat berat dan dapat berakhir dengan kematian akibat
suatu komplikasi (Markum, 2005).
3.
Tetanus
Penyakit Tetanus masih terdapat diseluruh
dunia, karena kemungkinan anak untuk mendapat luka tetap ada. Misalnya
terjatuh, luka tusuk, luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi bolong, radang
telinga. Luka tersebut merupakan pintu masuk kuman tetanus yang dikenal sebagai
Clostridium tetani. Kuman ini akan berkembang biak dan membentuk racun yang
berbahaya. Racun inilah yang merusak sel susunan saraf pusat tulang belakang
yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang khas adalah
kejang, dan kaku secara menyeluruh, otot dinding perut yang teraba keras dan
tegang seperti papan, mulut kaku dan sukar dibuka (Markum, 2005).
H.
Jadwal Pemberian Imunisasi
Imunisasi dasar
DPT diberikan tiga kali, karena saat imunisasi pertama belum memiliki kadar antibody
protektif terhadap difteri dan akan memiliki kadar antibody setelah mendapatkan
imunisasi 3 kali dengan interval 4 minggu.
Imunisasi DPT
tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan anak yang menderita
penyakit kejang demam kompleks. Jika tidak boleh diberikan pada anak dengan
batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan. Bila pada suntikan DPT
pertama terjadi reaksi yang berat maka sebaiknya suntikan berikut jangan
diberikan DPT lagi melainkan DT saja (tanpa P).
DPT biasanya tidak
diberikan pada anak usia kurang dari 6 minggu, disebabkan respon terhadap
pertusis dianggap tidak optimal, sedangkan respon terhadap tetanus dan difteri
adalah cukup baik tanpa memperdulikan adanya antibody maternal (Markum, 2005). Vaksin
DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang
dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang
disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Imunisasi DPT
diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3
bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu.
Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah
(5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka
sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.
Kekebalan
terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian vaksin
yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan
ditambah dengan bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan. Dosis
penyuntikan 0,5 ml diberikan secara subkutan atau intramuscular pada bayi yang
berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 4 minggu. Reaksi spesifik
yang timbul setelah penyuntikan tidak ada. Gejala biasanya demam ringan dan
reaksi lokal tempat penyuntikan. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu
yang terlalu tinggi, kejang, kesadaran menurun, menangis yang berkepanjangan
lebih dari 3 jam, hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT. (Depkes RI,
2005).
I.
Efek Samping Imunisasi DPT
Kira-kira pada
separuh penerima DPT akan terjadi kemerahan, bengkak dan nyeri pada lokasi
injeksi. Proporsi yang sama juga akan menderita demam ringan. Anak juga sering
gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca suntikan.
Kadang-kadang terdapat efek samping yang lebih berat seperti demam tinggi atau
kejang yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya (Markum, 2005).
Efek samping
pada DPT mempunyai efek ringan dan efek berat, efek ringan seperti pembengkakan
dan nyeri pada tempat penyuntikan dan demam, sedangkan efek berat dapat
menangis hebat kesakitan kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi
kejang, ensefalopati, dan shock (Alimul, 2008).
pengobatan.DPT
sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat
penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya
komponen pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT
menyebabkan komplikasi berikut:
1.
Demam tinggi (lebih dari 40,5° Celsius)
2.
Kejang
3.
Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak
yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam
keluarganya)
4.
Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan
respon).
Jika anak
sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa
ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak
atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya
membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.
1-2 hari
setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri,
kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan
menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk
mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau
lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Imunisasi
adalah usaha memberikan kekebalan kepada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin
ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti bodi untuk mencegah terhadap
penyakit tertentu. Imunisasi DPT
adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis
dantetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan
dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan)
adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang
menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama
beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak
dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi
serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi
bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.Vaksin DPT
adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7
tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan
pada otot lengan atau paha.
Imunisasi DPT
diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan
(DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu.
Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah
(5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka
sebaiknya diberikan DT, bukan DPT
B.
Saran
Dengan adanya
penjelasan mengenai imunisasi DPT, maka diharapkan :
1.
Setiap ibu memiliki inisiatif untuk aktif
memberikan imunisasi lengkap termasuk DPT.
2.
Orang tua diharapkan dapat memberikan tindakan
ringan seperti kompres panas, untuk mengurangi nyeri. Sebagai efek samping
imunisasi DPT
3.
Kematian anak
karena menderita difteri, tuberculosis, dan tetanus dapat dicegah.
4.
Para tenaga kesehatan mampu memberikan
pendidikan kesehatan bagi para ibu mengenai imunisasi, baik jadwal, efek
samping, maupun pentingnya imunisasi.
5.
Bidan dapat menerapkan prinsip, dan cara
pemberian imunisasi DPT bagi anak sesuai standar yang telah ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz.
2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.
Alimul, Aziz.
2008. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Salemba Medika.
Arikunto, S.
2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Azhali. (2008).
Program Imunisasi. (http://www.nakita.com, diakses 16 Maret 2009).diunduh pada
8 Oktober 2013